Minggu, 25 November 2012

JURNAL ( METODE RISET)

SISTEM JAMINAN MUTU MELALUI 3Q (QUALITY CONTROL,QUALITY ASSURANCE AND QUALITY MANAGEMENT) PADA INDUSTRI SUSU



I. PENDAHULUAN

Susu merupakan bahan pangan yang banyak dikonsumsi. Banyaknya konsumsi susu karena susu merupakan bahan pangan yang banyak mengandung lemak dan protein. Kedua bahan tersebut diperlukan oleh tubuh baik sebagai sumber energi ataupun pengatur metabolisme. Susu juga mengandung komponen lain, seperti asam sitrat, fosfolipid, dan vitamin dalam jumlah yang sedikit.
Saat ini banyaknya industri susu yang berkembang membuat persaingan pasar yang cukup ketat. Banyak industri ini juga menyebabkan banyaknya variasi mutu susu yang beredar di pasaran. Terkadang dalam suatu persuhaan susu juga menghasilkan produk yang memiliki mutu beragam. Untuk itu diperlukan suatu sistem manajemen mutu di perusahaan susu terutama dalam hal pengolahan untuk menyamakan kualitas susu yang dihasilkan.
Perusahaan yang baik akan menerapkan sistem manajemen mutu yang baik, yang terdiri dari 3Q, yaitu Quality Control, Quality Assurance, dan Quality Management. Selain itu juga terdapat sistem manajemen mutu lain yang biasa diterapkan antara lain ISO 9001:2000, Six Sigma, sertifikasi Halal, akreditasi Laboratorium, sertifikasi produk, dan HACCP.
Perusahaan yang kami ambil sebagai contoh dalam kasus ini adalah industri susu yang mencoba menerapkan prinsip 3Q (Quality Assurance, Quality Control, dan Quality Management).

II. PEMBAHASAN

1. Pengertian Quality Management System
Quality Management Sistem merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang dan atau jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu (Gazperz 2003). Kebutuhan atau persyaratan itu ditentukan atau dispesifikasikan oleh pelanggan atau organisasi.
Sistem manajemen kualitas mendefinisikan bagaimana organisasi menerapkan praktek-praktek manajemen kualitas secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar. Karakteristik umum dari sistem manajemen kualitas mencakup lingkup yang luas dari aktifitas-aktivitas dalam organisasi modern, berfokus pada konsistensi dari proses kerja, berlandaskan pada pencegahan kesalahan sehingga bersikap proaktif, bukan pada deteksi kesalahn yang bersifat reaktif, mencakup elemen-elemen tujuan, pelanggan, hasil-hasil, proses-proses, masukan-masukan, pemasok dan pengukuran untuk umpan balik dan umpan maju (Gazperz 2003).
2. Hubungan QMS dengan QA,QM, dan QC
Quality Control (QC) adalah pengawasan mutu produk selama proses produksi dengan melakukan pemerikasaan secara penuh, dengan tiga langkah utama, yaitu menilai kinerja operasi, membandingkan dengan satandar, dan koreksi atau perbaikan (Muhandri 2008). QC bertugas menentukan standar mutu tertentu terhadap produk dan atau jasa, metode pengujian untuk standardisasi mutu, infrastruktur pengujian mutu, sumber daya manusia yang berkompeten dalam melakukan pengujian mutu Quality Assurance (QA) adalah kegiatan terus menerus untuk memberi keyakinan bahwa suatu produk atau jas memenuhi persyaratan tertentu. Hal ini dilakukan untuk memneri keyakinan kepada konsumen untuk menggunakan produk tersebut secara terus menerus (Muhandri 2008). QA bertugas menentukan penjaminan tertentu terhadap kinerja unit pabrik, pengawasan terhadap proses produksi, sumber daya manusia yang berkompoten dalam pelaksanaan kinerja unit pabrik, dokumentasi dan pencatatan kinerja unit pabrik, dan pencatatan setiap kegiatan yang dilakukan.
Quality Manajemen (QM) adalah upaya pengembangan untuk mengarahkan dan mengendalikan suatu usaha perusahaan berkaitan de3ngan mutu sehingga produk dan jasa yang dihasilkan mencapai tingkat yang ekonomis dan memuaskan pelanggan (Muhandri 2008). Adapun tugas QM adalah menentukan standar sistem manajemen mutu terhadap kinerja perusahaan, pencatatan dan dokumentasi kerja, peningkatan standar mutu dengan perbaikan berkelanjutan, dan perencanaan mengenai standar mutu perusahaan.

III. SISTEM JAMINAN MUTU PADA PERUSAHAAN SUSU


Sistem jaminan mutu pada perusahaan susu meliputi pengawasan dan pemonitoran produk akhir hasil produksi. Selain itu juga dilakukan pengawasan terhadap bahan baku, bahan baku tambahan, dan penyimpanan. Pengawasan dan pemonitoran dibawahi oleh departemen quality assurance. Departemen ini membawahi tiga laboratorium, yaitu laboratorium penerimaan susu, laboratorium umum, dan laboratorium bakteriologi yang mana uji-uji yang dilakukan menjadi tanggung jawab quality control.

A. Laboratorium Penerimaan Susu
1. Prosedur Penerimaan susu
Susu segar yang diterima perusahaan berasal dari beberapa pemasok, seperti KUD. Susu tiba d iperusahaan pada saat pagi atau sore untuk dilakukan sampling. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode Bottling Sampling dan Drip Sampling.
a. Bottling Sampling
Pengambilan sampel secara bottling sampling dilakukan langsung ke dalam tangki susu oleh supir mobil tangki tersebut untuk kemudian dilakukan beberapa uji yang cepat dan praktis yang dilakukam oleh departemen quality control. Pengujian ini bertujuan menentukan apakah susu segar tersebut dapat diterima dan kemudian dipompa. Parameter yang diujikan adalah temperatur susu segar, uji alkohol, uji keasaman, uji reduktase, dan uji organoleptik.
Hasil pengujian akan dilaporkan oleh asisten laboratorium penerimaan susu dengan menuliskan hasil pengujian pada nota yang dibawa pengantar susu atau supir truk pada saat susu datang.
b. Drip Sampling
Drip sampling merupakan analisa yang dilakukan pada susu segar setelah susu mendapat persutujuan asisten laboratorium penerimaan susu untuk dipompa ke dalam silo. Sampel drip diambil saat susu sedang dipompa. Analisa yang dilakukan pada sampel drip adalah analisa kadar lemak, protein laktosa, total padatan, dan padatan tanpa lemak.
Untuk mengetahui kondisi susu jauh, tim quality control juga melakukan uji pemalsuan (adulteration test). Uji bertujuan mengetahui apakah ada penambahan senyawa-senyawa tertentu dalam susu segar yang akan mempengaruhi hasil pengujian susu segar tersebut. Adapun uji pemalsuan yang dilakukan yaitu:
1.      Tes Urin
Tes urin bertujuan mengetahui adanya kontaminasi urin sapi pada susu segar.
2.      Tes Formalin
Tes formalin bertujuan mengetahui adanya penambahan formalin pada susu segar sebagai pengawet.
3.      Tes Flour
Tes flour dilakukan untuk mengetahui adanya penambahan tepung. Adanya penambahan tepung dapat diketahui dari reaksi penambahan larutan iodine dengan susu yang akan menimbulkan butir-butir biru tua atau hitam.
4.      Tes Anibiotik
Pengujian antibiotik dilakukan dengan metode Delvo. Pengujian ini bertujuan mengetahui adanya kandungan antibiotik dalam susu segar. Adanya antibitok dalam susu dapat diketahui dari reaksi nutrien dengan susu, dimana akan terjadi perubahan warna agar nutrien menjadi kuning yang menunjukan susu tidak mengandung antibiotik.
5.      Tes Garam
Penambahan garam biasanya dilakukan produsen untuk meningkatkan total padatan sehingga produsen dapat mendapatkan bonus lebih banyak.
6.      Tes Peroksida
Secara alamiah susu mengandung enzim oksidase dan peroksidase. Adanya enzim oksidase dalam susu dapt menyebabkan ketengikan jika susu ditambahkan hidrogen peroksida. Peroksidase akan mendekomposisi hidrogen menjadi molekul air dan atom oksigen.
7.      Penambahan milk powder
Penambahan milk powder ke dalam susu bertujuan meningkatkan total padatan pada susu.
8.      Tes Gula
Penambahan gula dilakukan untuk menambhan total padatan pada susu sehingga meningkatkan nilai penjualan susu.
Pengujian dilakukan secara random pada beberapa pemasok susu.

2. Prosedur Penolakan Susu
Setelah susu melewati tahap analisa, apabila ternyata memperoleh hasil yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan, maka akan dilakukan penolakan terhadap susu tersebut.Penolakan susu juga dilakukan apabila terdapat pemalsuan susu seperti penambahan bahan kimia yang akan memperngaruhi kualitas susu.
Walaupun demikian susu segar yang dinilai tidak normal seperti terdapat sedikit penyimpangan rasa, warna, komponen, atau saat dilakukan uji menunjukkan adanya zat-zat asing pada tingkat yang masih rendah, maka susu tersebut akan diterima sebagai pengecualian. Pemasok susu yang ternyata susunya ditolak, akan diberikan alternatif pembuangan, yaitu susu tersebut akan dibuang ke pabrik (dalam pengolahan limbah) agar diproses ulang atau diberikan warna dengan pewarna makanan dan akan dikembalikan ke pamasok yang bersangkutan.

B. Laboratoriu Umum (General)
Laboratorium ini bertugas untuk melakukan uji-uji terhadap kualitas bahan baku tambahan, analisa susu bubuk selama proses dan analisa untuk produk akhir. Laboratorium ini juga mempersiapkan dan mencatat data hasil organoleptik, data-data dari laboratorium lainnya, dan melakukan pengawasan terhadap bahan pengemas.
1.         Analisa Bahan Baku Tambahan
Selain bahan baku utama susu segar, dalam pembuatan berbagai formula susu bubuk diperlukan bahan tambahan yang digunakan. Bahan-bahan tersebut adalah minyak mentega (anhydrous milk fat), susu bubuk skim, protein susu (kasein), micronutrient premix, trace element, minyak jagung, dan lesitin. Bahan-bahan tersebut berasal dari beberapa pemasok.
Setiap penerimaan bahan tambahan akan melalui proses penerimaan di laboratorium umum untuk dilakukan proses pemeriksaan. Proses pemeriksaan dilakukan secara kuantitatif oleh petugas gudang dan secara kulitatif oleh petugasn QA.
Pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan jumlah yang mewakili. Alat yang digunakan untuk mengmabil sampel sudah disterilisasi terlebih dahulu dan dipertahankan kondisinya tetap aseptis hingga saat digunakan. Sampel diletakkan dalam botol plastik.

Adapun analisa pengujian penerimaan yang dilakukan sebagai berikut :

a.      Anhydrous Milk Fat
Bahan ini dikenal sebagai minyak mentega. Pemeriksaai pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan pada kemasan, drum tempat menyimpan minyak mentega ini harus bersih, tidak bocor, dan memberikan informasi yang benar. Selamjutnya dilakukan pemeriksaan organoleptik bau, rasa, serta pemeriksaan kimia, meliputi kandungan lemak, air, bilangan peroksida, pemeriksaan kandungan timah, bahan aditif, dan kontaminasi lainnya.
b.     Susu Bubuk Skim
Terdapat tiga macam susu bubuk yang secara fungsional berbeda, yaitu susu skim dengan pemansasn tinggi, medium, dan rendah. Susu skim dengan pemanasan rendah digunakan unutk standarisasi susu, sedangkan susu skim dengan pemanasan tinggi digunakan sebagai media pencampur vitamin premix sebelum bahan-bahan itu masuk ke lini produksi.
Pengujian yang dilakukan pada susu bubuk skim adalah uji kadar air, kadar lemak, dan mutu organoleptik, serta indeks solubilitas, total asam tertitrasi, total mikroba, total bakteri dan kandungan Salmonella. Setiap tahunnya dilakukan pemeriksaan kandungan aflatoksin, antibiotik, pestisida, dan logam berat yang dilakukan oleh laboratorium setempat.
c.     Potasium Kaseinat
Bahan ini mengandung minimal 88% protein, maksimal 6% air, 6% lemak dan abu.
d.    Micronutrient Premix
Kandungan premix antara lain adalah vitamin A asetat, vitamin D3, vitamin E, vitamin K, pantotenat, nikotinamid, piridoksin hidroklorida, asam folat, natrium askorbat, biotin, kalium iodida, dan maltodekstrin jagung. Pada kemasan dicantunkan keterangan mengenai kandungan bahan serta jumlah penambahan yang dianjurkan tiap satuan berat produk akhir. Pengujian dilakukan terhadap beberapa jenis vitaminyang kritis, seperti vitamin A dan vitamin C.
e.      Minyak Jagung
Bahan ini adalah sumber asam lemak linolenat. Pemeriksaan kimiawi dilakukan terhadap kandungan lemak (asam lemak bebas), bilangan peroksida, indeks relatif, dan bilangan iod.
f.       Lesitin
Pemeriksaan lesitin yang utama dilakukan terhadap bilangan peroksida, keasaman, mutu organoleptik, kadar air, kandungan mikroba, kandungan logam berat dan pestisida serta kelarutannya. Mutu lesitin dilakukan dengan menganalisa mutu keasamannya.

2.       Analisa Produk Akhir dan Susu Bubuk Selama Proses

Produk akhir setelah proses berlangsung atau telah mengalami penyimpanan selama beberapa waktu tertentu akan dilakukan pengujian terhadap aspek-aspek mutu. Pengujian yang dilakukan, yaitu :
a.       Analisis kandungan oksigen
Analisis ini untuk mengetahui jumlah kanudngan oksigen yang terdapat dalam kemasan.
b.       Penentuan Kadar Lemak
Penentuan Kadar Lemak dengan metode Mojonnier
c.       Penentuan Kadar Protein
Penentuan kadar protein dilakukan dengan metode kjedahl.
d.       Analisis Kadar Air.
Analisis kadar air dilakukan dengan metode oven.
e.       Analisa Wettability
Wettability merupakan kemampuan susu bubuk untuk terlarut dalam air 20oC atau 40oC dalam hitungan detik.
f.       Miscibility
Miscibility merupakan analisa yang dilakukan untuk mengetahui banyaknya susu bubuk yang tidak terlarut dicampur dalam air dengan rotary mixer dan disaring.
g.      State of dissolution
State of dissolution merupakan penilaian terhadap banyaknya bubuk yang tidak larut dan menempel pada slide kaca yang diaduk setelah sampel dengan jumlah tertentu dilarutkan, diaduk dan kemudian disaring.
h.      Analisa Kalsium
Analisa kalsium dilakukan dengan metode kompleksiometri.
i.       Analisa Magnesium
Analisa magnesium dilakukan dengan metode kompleksiometri.
j.       Sieve Test
Sieve test merupakan analisa yang menunjukkan banyaknya residu partikel-partikel susu yang tidak terayak dengan ayakan jenis ASTM. Partikel yang tidak terayak dianggap sebagai residu untuk kemudian ditimbang beratnya.
k.      Tes Keasaman
l.       Solubility Index
Solubility index merupakan indeks kelarutan yang dapat ditunjukkan dengan menggunakan alat solumixer.

3.      Penyimpanan Produk Akhir (Keeping Quality)

Untuk mengetahui kondisi produk akhir yang telah dihasilkan dan berada di pasaaran setelah beberapa waktu tertentu, maka departemen QA mengadakan pengambilan sampel setiap kali dihasilkan produk pada proses produksi dengan kode masing-masing.
Penyimpanan produk dilakukan setiap hari tergantung dari produksi yang dihasilkan dan dilakukan selama 36 bulan untuk produk dengan kemasan kaleng dan 24 bulan untuk produk dengan kemasan lunak. Setiap kali penyimpanan dibtuhkan 9 buah sampel untuk disimpan pada temperatur ruang selama 7 hari, 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan, 18 bulan, 24 bulan, 30 bulan, dan 36 bulan. Sedangkan penyimpanan 1 bulan dilakukan pada ruangan dengan temperatur 37oC. Pembedaan penyimpanan ini dilakukan karena dengan penyimpanan 1 bulan dapat diketahui pendugaan umur simpan produk akhir yang berhubungan dengan kondisi dan keawetan produk untuk jangka waktu tertentu.
Analisa yang dilakukan sama dengan analisa yang dilakukan terhadapa prosuk akhir. Analisa yang dilakukan dimulai dari tes organoleptik (tasting) sampai analisa kimia maupun fisika dan juga analisa secara mikrobiologis.

4.        Uji Organoleptik (Tasting)
Salah satu analisa yang dilakukan terhadap kualitas produk akhir adalah uji orgoleptik (tasting). Penilaian secara organoleptik dilakukan terhadapa seluruh produk akhir baik yang baru saja diproduksi maupun yang telah mengalami penyimpanan selama tertentu. Uji ini dilakukan setiap haru oleh staff daprtemen QA, departemen produksi, juga dihadiri oleh manajer pabrik.

5.        Pengawsan Mutu Bahan Pengemas
Bahan pengemas yang digunakan adalah kemasan kaleng dan kemasan lunak yang diproduksi untuk tujuan ekonomis. Kemasan kaleng dibuat dari lembaran timah, terdiri dari tiga lapisan yaitu badan, tutup, dan dasar kaleng. Produk dalam kemasan lunak adlah prosuk dalam kemasan primer berupa sachet dari alumunium foil. Sebagai kemasan sekunder digunakan kotak lipat (folding box).
Bahan pengemas yang akan digunakan dalam proses pengemasan prosuk terlebih dahulu melalui proses penerimaan yang telah disepakati. Pemeriksaan dilakukan oleh bagian pengawasan mutu bahan pengemasan dan bahan baku penunjang yang berada di bawah laboratorium general.
a.        Alumunium Foil
Alumunium foil yang digunakan terdiri dari beberapa lapisan, yaitu PET (polyester), alumunium dan LDPE (Low Density Polyetilen) dimana masing-masing dengan ketebalan tertentu. Lapisan polietilen terdalam ditujukan untuk mempermudah pengeliman. Pengujian yang sangat penting terhadapa alumunium foil adalah pengujian aromatik dengan mengekspos sampel alumunium foil kepada panas selama 30 menit. Pengujian alkohol ini bertujuan memperoleh kondisi alufoil yang sama setiap waktu baik dalam hal pencetakan maupun untuk kondisi fisik lainnya.
b.       Kotak lipat
Kotak lipat terbuat dari kertas duplex yang diberi lapisan lilin pada salah satu sisinya untuk pencetakan merek dan keterangan produk lainnya. Pengujian yang kritikal adalah terhadap penampakan fisik karton, yaitu ketepatan dimensi, kesempurnaan berbentuk kotak (pelipatan dan penekukan) dan penyambungan, pencetakan, dan kemudahan perobekan zipper.
c.       Kardus dan baki karton (carton tray)
Kardus dan carton tray terbuat dari kertas kraft yang menggunakan media karton bergelombang (corrugated board) dengan ukuran berat per satuan luas tertentu. Pengujian yang kritika adalah terhadap pencetakan merek dan keterangan produk, jenis bahan, tipe, dan arah alur. Uji juga dilakukan terhadap kesesuaian warna, pemotongan tepi kardus, penekukan, ketahanan terhadap tekanan dari depan, atas, dan samping, dimensi, kekuatan pengeleman, dan kesempurnaan bentuk.
d.       Badan Kaleng
Pengujian yang kritikal terhadapa badan kaleng adalah pencetakan kebocoran, adanya karat, minyak maupun noda solder dan tinta, kesempurnaan pengeliman (seaming) dan penyolderan.
e.       Tutup Kaleng
Pada dasarnya pengujian terhadap tutup kaleng dilakukan untuk memastikan bahwa ukuran tutup sesuai dengan mulut badan kalengnya. Selain itu dilakukan juga pengujian berat gasket karet (untuk tutup timah) sertan dimensi lekukan-lekukannya. Plastik tutup kaleng terbuat dari LDPE.
f.       Dasar Kaleng
Pengujian yang dilakukan adalah kesesuain ukuran dengan dasar kaleng (diameter dalam dan luar), terhadap berat gesket tiap unit dan terhadap jumlah dan ukuran dimple, yaitu tempat mesin pengisian produk mencengkram dasar kaleng pada saat pengeliman.

C. Laboratorium Bakteriologi
Laboratorium bakteriologi adalah laboratorium yang menangani masalah mikrobiologis pada kegeiatan produksi, baik berupa bahan baku, produk akhir meliputi sanitasi lingkungan yang dapat menyebabkan kontaminasi makanan. Untuk menjalankan fungsi tersebut, laboratorium bakteriologi terdiri dari asisten lab senior, pembantu lab, dan komisi higienis :
1.    Asisten lab senior bertugas menyiapkan sampel untuk dianalisa dan melakukan analisa dasar mikrobiologis seperti analisa TPC, coliform, dan entebacteri.
2.    Pembanu lab bertugas mengambil sampel, menyiapakn dan mensterilkan media serta alat dan membersihkan semua alat gelas dan peralatan yang digunakan untuk analisa bakteriologi.
3.      Komite Higienis bertugas mengadakan training bagi karywan di pabrik, mengawasi higienitas di pabrik dan menetapkan daerah spesifik higienis.
Kegiatan yang dilakuan laboratorium bakteriologi adlah mengontrol atau memonitor kondis higienis dari bahan baku sampai produk akhir.



Jenis Sampling
Pengujian
Frekuensi Uji
Susu Segar
TPC
Minimal 30 sampel/bulan dari  
setiap pemasok
Bahan-bahan penunjang
TPC, Coliform, Salmonella
Setiap kali kedatangan
Tempat dan produk selama proses produksi
TPC, Coliform, Salmonella
2 kali setiap tanggal proses (1kali setiap shift)
Produk akhir
TPC, Coliform, Salmonella
Setiap kode produksi
Lingkungan : area kritis, area pertengahan, area non kritis
Enterobakteri 
Salmonella
Dua kali seminggu, dua kali sebulan, dan dua kali sebulan
Air pabrik
Coliform, Salmonella, dan TPC
Dua kali seminggu, dua kali sebulang, dan dua kali seminggu
Kantin : peralatan dan makanan
Coliform, Salmonella, dan TPC
Setiap bulan
1.         Higienic Area atau Daerah Krtis
Daerah kritis ada;ah daerah yang dekat dengan produk dan dapat secara langsung mempengaruhi kebersihan produk. Daerah ini harus kering, udaranya tersaring dan bebas dari bakteri yang merugikan. Sebagai daerah bersih, maka semua pakaian, tangan, dan alat-alat yang memasuki daerah kritis harus bersih dan kering, juga harus memakai topi serta sepatu bersih khusus atau penutup plastik untuk sepatu. Contoh daerah ini adalah ruang pengisian, ruang pencampuran vitamin, ruang produksi susu.
2.        Daerah Pertengahan
Daerah pertengahan adalah perbatasan antara daerah kritis dengan daerah non kritis dimana perlakuan untuk memasuki daerah kritis mulai diberlakukan. Daerah ini juga merupakan saringan pertama untuk menjalarnya kontaminasi ke dalam daerah kritis dan daerah ini harus selalu kering dan bersih.
3.        Daerah non kritis
Daerah non kritis adalah daerah yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi kebersihan dari produk yang diproses. Daerah ini bisa daerah basah atau daerah kering, tetapi kedua nya harus bersih karena kotoran merupakan sumber kontaminasi.

PENUTUP
Sistem jaminan mutu dalam suatu perusahaan merupakan salah satu bagian terpenting dan tidak bisa dipisahkan, salah satunya dalam perusahaan pengolahan susu. Penerapan sistem manajemen mutu yang baik akan menghasilkan kualitas produk yang baik pula sehingga dapat diterima dan bersaing di pasaran, terutama di industri pengolahan susu yang memiliki persaingan cukup ketat.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Gasperz, V. 2003. Total Quality Management. PT. Gramedia, Jakarta.
  2. Muhandri, T. dan D.Kadarisman. 2008. Sistem Jaminan Mutu Pangan. IPB Press, Bogor.

Kamis, 22 November 2012

Jurnal Perilaku Konsumen (Bahasa Inggris) tugas softskill ke-2

 International Journal of Consumer Behavior


CONSUMER BEHAVIOR INTER CULTURAL

Abstract World economy increasingly cross-culture. for next decade, as marketers entering new international markets, an understanding of how culture influences consumer behavior will be very important for both managers and researchers consument. article presents a framework that integrates and interprets current research in cross-cultural behavior consumer. Framework also serves to identify areas that require further research and can be used as a template for marketers seek to understand the foreign consumer markets and international they competition. globalization requires enterprises to operate within Multicultural. Several attempts have been made to develop an integrative view of current cross-cultural research on the behavior consumer., but some models of cultural influence on consumer behavior does not offer a framework in which literature can be sufficiently integrated, not strictly based on the theory, or does not contain a full report on how certain cultural dimensions influence consumer behavior specific components.



INTERNATIONAL MARKETING REVIEW 


In some cases, researchers have succeeded in providing a clear managerial model of cross-cultural consumer behavior (eg Samli, 1995). Our framework build on the work and efforts with: 1. offer good cultural dimensionalization easy tooperationalize and theoretically rigorous; 2. provide a widely accepted definition of consumer behavior in terms of its components is not simply a list of topics consumer behavior that may or may not be influenced by culture, and 3. comprehensively integrate and interpret current research in the light of each of the manifestations of the interaction between culture and consumer behavior in the framework of the proposed components.  

As Douglas et al. (1994) suggest, our framework combines different sources,research traditions and methodological philosophy about how to do cross-culturals crutiny. Consumer behavior between Cultures From the perspective adopted, two definitions of culture, emik and ethics, may be considered as two sides of the same coin. Culture is the lens, forming a reality, and blueprints, determines the action plan. At the same time, culture is unique to a group of people take advantage specific. scrutiny provided by the second approach, we gain a more complete understanding of the culture. we now will discuss a model that describes the influence of the culture of reciprocity and behavior consumer culture and individual behavior is the result of the individual's cultural value system to a certain context. Individual's cultural system of values developed over time as they socialized into the culture and subculture particular.

Community cluster area and family values all affect the formation individuals. With cultural value system, the values of culture system includes elements of individual cultures- individuals have in common with the group (s) in which they are located, as well as special values unique to individuals. as model shows, cultural influence consumer behavior, which in itself can strengthen cultural manifestations (Peter and Olson, 1998) An individual consumption behavior can be viewed and copied or rejected by this other. case then can become the norm group behavior and identified as part of the culture of a particular population. The influence of values on consumer behavior Value and cognition. In their study, McCort and Malhotra (1993) describes a number of studies on the influence of cultural values on information processing issues such as categories of perception, inference and learning perceptions.


We now continue to explore the cross-cultural research that still exist today consumer behavior in the light of our frame work. The influence of values on consumer behavior Value and cognition. In their study, McCort and Malhotra (1993) describesome research on the influence of cultural values on information processingissues such as categories of perception, inference and learning perceptions. To For example, several studies have examined the effect of culture on cognitiveprocesses such as perception of time (for example BergadaaÁ 1990). Similarly, Aaker andSchmitt (1997) tested the influence of cultural orientation, operationalized togetherdimensions of individualism-collectivism, self-construal on. In the run experiment, Aaker and Schmitt (1997) found that both individualist and collectivist consumers use brands for self-expressive purposes (like inMcCracken, 1988).

They use the mark, however, in a different way: the collectivist consumers use the brand to reassert their similarity with the reference group of their members, while the individualist consumer to use the mark to distinguish yourself from others reference. Developing consumer ethno centrism is often studied by cross-cultural researchers. The building, as operationalized by Shimp and Sharma (1987),can be viewed as instrumental values (Rokeach, 1973). In their study,Shimp and Sharma (1987) found that consumer ethno centrism determine their perception of foreign than domestic products (cognition), and their attitudes and behavior. Other studies of the value-cognition relations had taken a emik perspective. McCracken (1988, p. 73) clarify the meaning of cultural categories: `` coordinate fundamental cultural categories of meaning. They represent the cultural differences that divide the bottom up'' phenomenal world. Category similar to developing psychological schemata. They help individuals organize and give meaning to the world.  

There are several kinds of cultural categories: categories of time, space, nature, and people. One of the most important ways in which the categories are supported through the consumption of goods. Cultural categories were formed according to the principles of culture, or values. Similarly, D'Andrade (1992) also explains how mental schemas that are influenced by culture. Thus, the anthropological view of culture also recognizes that cognitive constructs (ie category) as determined by the manifestation of culture (ie values). Value and affect. a number of study examined the role of cultural values in the process of attitude formation. We can distinguish between advertising and behavioral research consument. Affect to advertising and / or products are two of the most important gauge of the success of the advertisement. Therefore, the number of researchers have examined affective advertising variables in cross-cultural advertising. In particular, several studies have sought to ascertain the role of cultural values in ad-irritated.

For example, Taylor et al. (1997) compared high and low context effect of symbols on consumer behavior and cognition symbol. Most of the research in this area has been to investigate the effect of language on consumer cognition ', for the most part in advertising acontext. The study of cognition and cognitive structure lends itself naturally to being learned through the tools of cognitive psychology. Therefore, the few studies in this area apply psycholinguistic theory to consumer information processing. Language study in the advertisement has experienced increased attention from researchers. For example, Luna and Peracchio (1999) extend the two theories developed by researchers in psycholinguistics to ads targeting bilingual consumers. Schmitt et al. (1994) compares the speaker of Chinese and English and language implications of structural differences have for consumer information processing and mental representations (whether visually or auditorily information presented example is remembered better).

The effect of rituals on consumer behavior Several cross-cultural studies to explore the role of ritual in consumer behavior.One exception is the (1991) study of ritual Mehta and Belk proprietary India and Indian immigrants to the United States. The authors explain the use of property by immigrants in securing identitas.
treasure regarded as a symbol of India to maintain their identity in a public setting, and ownership ritual help shape their cognitive structures, their perceptions about self. Arnould (1989) explained the process of the formation of preferences in ritual behavior in the Republic Niger and also how rituals influence consumer behavior in culture.

Solomon and Anand (1985) describe how the female Rite in New York contemporary clothing consumption. Relationship determine the values, symbols, rituals and consumer behavioris a complicated, data in this study indicate that this [ritual] is probably the aggregate identity preservation strategy anchored in symbols more concrete''. So, the ritual may not reflect the values of the culture in which the ritual originated. Indian food can be eaten by Indian immigrants in the United States (ritual), butpurity teachings ignored food (traditional Indian cultural values). On the other hand,ritual functions as a physical sign to secure an identity. Researchershould investigate the complex relationships in future studies, especially because they happen to each of the three components of consumer behavior: cognition, affect, and behavior.

Conclusion This article provides a framework that integrates and interprets current research in cross-cultural work is practical behavior consumer.
framework nature in that it can easily be operationalized by the manager and the consumerresearchers interested in understanding how consumer culture shapebehavior. This framework is distilled from the more general's model of relationship between culture and behavior consument. Manager can useframe work as a template to examine how consumers in foreign markets willreact to the product or service. For example, marketers enter the foreign country to study each cell in Table I to identify potential culturerelated problems or issues. Academic researchers will find useful framework for identifying current body of literature strength and areas that require moreperhatian. Besides therefore, this article attempts to reconcile the two approaches incultural studies as it affects consumer behavior. Ethics and philosophy emikseen as two sides of the same coin, each complementing the other. Through integration of previous work on cross-cultural consumer behavior, weframework provides a global view of the interaction of culture and consumer behavior. Consumer researchers now need to investigate the district inframe work, there is a lack of rigorous studies.



ANALYSIS : From the perspective adopted, two definitions of culture, emik and ethics, may be considered as two sides of the same coin. Culture is the lens, forming a reality, and blueprints, determines the action plan. At the same time, culture is unique to a group of people take advantage certain. With scrutiny provided by the second approach, we gain a more complete understanding of the culture (s). We now will discuss a model that describes the influence of the culture of reciprocity and behavior consumer.




Jurnal Tentang Perilaku Konsumen ( tugas softskill ke-2)


 Jurnal Tentang  PERILAKU KONSUMEN
Oleh : Raditya Priantama (NPM 18210161)
                                        
Gambar 1.1 : MODEL PRILAKU KONSUMEN. TIGA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PILIHAN KONSUMEN
  1. Konsumen Individu
Pilihan merek dipengaruhi oleh kebutuhan konsumen, persepsi atas karakteristik  merek, dan sikap ke arah pilihan. Sebagai tambahan, pilihan merek dipengaruhi oleh demografi konsumen, gaya hidup, dan karakteristik personalia.

2. Pengaruh Lingkungan
Lingkungan pembelian konsumen ditunjukkan oleh budaya (norma kemasyarakatan, pengaruh kedaerahan atau kesukuan), kelas sosial (keluasan grup sosial ekonomi atas harta milik konsumen), grup tata muka (teman, anggota keluarga, dan grup referensi) dan faktor menentukan yang situasional (situasi dimana produk dibeli seperti keluarga yang menggunakan mobil dan kalangan usaha). 

3. Marketing strategy
 Merupakan variabel dimana pemasar mengendalikan usahanya dalam memberitahu dan mempengaruhi konsumen. Variabel-variabelnya adalah barang, harga, periklanan dan distribusi yang mendorong konsumen dalam proses pengambilan keputusan. Pemasar harus mengumpulkan informasi dari konsumen untuk evaluasi kesempatan utama pemasaran dalam pengembangan pemasaran. Kebutuhan ini digambarkan dengan garis panah dua arah antara strategi pemasaran dan keputusan konsumen dalam gambar 1.1 penelitian pemasaran memberikan informasi  kepada organisasi pemasaran mengenai kebutuhan konsumen, persepsi tentang karakteristik merek, dan sikap terhadap pilihan merek. Strategi pemasaran kemudian dikembangkan dan diarahkan kepada konsumen.
Ketika konsumen telah mengambil keputusan kemudian evaluasi pembelian masa lalu, digambarkan sebagai umpan balik kepada konsumen individu. Selama evaluasi, konsumen akan belajar dari pengalaman dan pola pengumpulan informasi mungkin  berubah,  evaluasi  merek,  dan  pemilihan  merek.  Pengalamn  konsumsi secara langsung akan berpengaruh apakah konsumen akan membeli merek yang sama lagi.
Panah  umpan balik mengarah kembali kepada organisasi     pemasaran. Pemasar akan mengiikuti rensponsi konsumen dalam bentuk saham pasar dan data penjualan. Tetapi informasi ini tidak menceritakan kepada pemasar tentang mengapa konsumen membeli atau informasi tentang kekuatan dan kelemahan dari merek pemasar secara relatif terhadap saingan. Karena itu penelitian pemasaran diperlukan pada tahap ini untuk menentukan reaksi konsumen terhadap merek dan kecenderungan pembelian di masa yang akan datang. Informasi ini mengarahkan pada manajemen untuk merumuskan kembali strategi pemasaran kearah pemenuhan kebutuhan konsumen yang lebih baik. 

B. PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Tipologi pengambilan keputusan konsumen :
1. Keluasan pengambilan keputusan (the extent of decision making)
Menggambarkan proses yang berkesinambungan dari pengambilan keputusan menuju kebiasan. Keputusan dibuat berdasrkan proses kognitip dari penyelidikan informasi dan  evaluasi  pilihan  merek.  Disisi  lain,  sangat  sedikit  atau  tidak  ada keputusan yang mungkin terjadi bila konsumen dipuaskan dengan merek khusus dan pembelian secara menetap. 

2. Dimensi atau proses yang tidak terputus dari keterlibatan kepentingan pembelian yang tinggi ke yang rendah.
Keterlibatan kepentingan pembelian yang tinggi adalah penting bagi konsumen. Pembelian berhubungan secara erat dengan kepentingan dan image konsumen itu sendiri. Beberapa resiko yang dihadapi konsumen adalah resiko keuangan , sosial, psikologi. Dalam beberapa kasus, untuk mempertimbangkan pilihan produk secara hati-hati diperlukan waktu dan energi khusus dari konsumen. Keterlibatan kepentingan pembelian yang rendah dimana tidak begitu penting bagi konsumen, resiko finansial, sosial, dan psikologi tidak begitu besar. Dalam hal ini mungkin tidak bernilai waktu bagi konsumen, usaha untuk pencarian informasi tentang merek dan untuk mempertimbangkan pilihan yang luas. Dengan demikian, keterlibatan kepentingan pembelian yang rendah umumnya memerlukan proses keputusan yang terbatas “ a limited  process of decision making”. Pengambilan keputusan vs kebiasaan dan keterlibatan kepentingan yang rendah vs keterlibatan kepentingan yang tinggi menghasilkan empat tipe proses pembelian konsumen.

C. EMPAT TIPE PROSES PEMBELIAN KONSUMEN :


1.  Proses “ Complex Decision Making “, terjadi bila keterlibatan kepentingan tinggi pada pengambilan keputusan yang terjadi. Contoh pengambilan untuk membeli sistem  fotografi elektronik seperti Mavica atau keputusan untuk membeli mobil. Dalam kasus seperti ini, konsumen secara aktif mencari informasi  untuk  mengevaluasi  dan  mempertimbangkan  pilihan  beberapa merek dengan menetapkan kriteria tertentu seperti kemudahan dibawa dan resolusi untuk sistem kamera elektronik, dan untuk mobil adalah hemat, daya tahan tinggi, dan peralatan. Subjek pengambilan keputusan yang komplek adalah sangat penting. Konsep perilaku kunci seperti persepsi, sikap, dan pencarian informasi yang relevan untuk pengembangan stratergi pemasaran.

2.    Proses “ Brand Loyalty “.  Ketika pilihan berulang, konsumen belajar dari pengalaman masa lalu  dan  membeli merek yang memberikan kepuasan dengan sedikit atau tidak ada proses pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Contoh pembelian sepatu karet basket merek Nike atau sereal Kellogg,s Nutrific. Dalam setiap kasus disini pembelian adalah penting untuk konsumen, sepatu basket karena keterlibatan kepentingan dalam olah raga, makanan sereal untuk orang dewasa karena kebutuhan nutrisi. Loyalitas merek muncul dari kepuasan pembelian yang lalu. Sehingga, pencarian informasi dan evaluasi merek terbatas atau tidak penting keberadaannya dalam konsumen memutuskan membeli merek yang sama.
Dua tipe yang lain dari proses pembelian konsumen dimana konsumen tidak terlibat atau keterlibatan kepentingan yang rendah      dengan barangnya adalah tipe pengambilan keputusan terbatas dan proses inertia.

3.  Proses “ Limited Decision Making “. Konsumen kadang-kadang mengambil keputusan walaupun mereka tidak memiliki keterlibatan kepentingan yang tinggi, mereka hanya memiliki sedikit pengalaman masa lalu dari produk tersebut. Konsumen membeli barang mencoba-coba untuk membandingkan terhadap makanan snack yang biasanya dikonsumsi. Pencarian informasi dan evaluasi terhadap pilihan merek lebih terbatas dibanding pada proses pengambilan keputusan yang komplek. Pengambilan keputusan terbatas juga terjadi ketika konsumen mencari variasi. Kepitusan itu tidak direncanakan, biasanya dilakukan seketika berada dalam toko. Keterlibatan kepentingan yang rendah, konsumen cenderung akan berganti merek apabila sudah bosan mencari variasi lain sebagai perilaku pencari variasi akan melakukan apabila resikonya minimal. Catatan proses pengambilan keputusan adalah lebih kepada kekhasan konsumen daripada kekhasan barang. Karena itu tingkat keterlibatan kepentingan dan pengambilan keputusan tergantung lebih kepada sikap konsumen terhadap produk daripada karakteristik produk itu sendiri. Seorang konsumen mungkin terlibat kepentingan memilih produk makanan sereal dewasa karena nilai nutrisinya, konsumen lain mungkin lebih menekankan kepada kecantikan dan menggeser merek dalam mencari variasi.

4.  Proses “ Inertia “. Tingkat kepentingan dengan barang adalah rendah dan tidak ada pengambilan keputusan. Inertia berarti konsumen membeli merek yang sama bukan karena loyal kepada merek tersebut, tetapi karena tidak ada waktu yang cukup dan ada hambatan untuk mencari alternatif, proses pencarian informasi pasif terhadap evaluasi dan pemilihan merek. Robertson berpendapat bahwa dibawah kondisi keterlibatan kepentingan yang rendah “ kesetiaan merek hanya menggambarkan convenience yang melekat dalam perilaku yang berulang daripada perjanjian untuk membeli merek tersebut” contoh pembelian sayur dan kertas tisu. Keempat proses tersebut digambarkan sebagai berikut :
Pengambilan keputusan konsumen menghubungkan konsep perilaku dan strategi pemasaran melalui penjabaran hakekat pengambilan keputusan konsumen. Kriteria apa yang digunakan oleh konsumen dalam memilih merek akan memberikan petunjuk dalam manajemen pengembangan strategi.
Pengambilan keputusan konsumen adalah bukan proses yang seragam.
Ada perbedaan antara
(1) pengambilan keputusan  dan
(2) keputusan dengan keterlibatan kepentingan yang  tinggi dan keputusan dengan keter-libatan kepentingan yang rendah.

D. PENGAMBILAN  KEPUTUSAN  YANG  KOMPLEK  (COMPLEKS  DECISION MAKING)


Untuk  memahami  keputusan  yang  komplek  maka  perlu  dipahami  hakekat keterlibatan konsumen dengan suatu produk.
Kondisi  keterlibatan  konsumen  akan  suatu  produk,  apabila  produk  tersebut adalah :
1.  Penting bagi konsumen karena image konsumen sendiri, misalnya pembelian mobil sebagai simbol status.
2.  Memberikan daya tarik yang terus menerus kepada konsumen, misal dalam dunia mode ketertarikan            konsumen model pakaian.
3.  Mengandung resiko tertentu, misal resiko keuangan untuk membeli rumah, resiko teknologi untuk                  pembelian komputer.
4.  Mempunyai ketertarikan emosional, misal pencinta musik membeli Sistem stereo yang baru.
5.  Dikenal dalam kelompok grupnya atau “ badge “ value dari barang yang bersangkutan, seperti jaket kulit,      mobil marsedes atau scarf dari Gucci.

Model keterlibatan konsumen :
Tipe Keterlibatan :
1. Situational involvement. Terjadi hanya dalam situasi khusus dan sementara dan umumnya bila pembelian
    itu dibutuhkan. Misalnya keputusan mengambil pendidikan MBA adalah karena kebutuhan untuk
    pekerjaan.
2. Enduring involvement. Terus menerus dan lebih permanen umumnya terjadi karena ketertarikan yang
    berlangsung terus dalam kategori produk,walaupun pembelian itu dibutuhkan atau tidak,misalnya
    ketertarikan pada baju.
Baik  enduring maupun situational involvement merupakan hasil proses pengambilan keputusan yang kompleks. “Badge” value adalah suatu kondisi dimana mencakup keterlibatan situasional dan keterlibatan yang menetap.

Penelitian dalam penagambilan keputusan meliputi lima tahap :
1)   Penetapan masalah
2)   Pencarian informasi
3)   Evaluasi terhadap pilihan
4)   Pemilihan
5)   Hasil dari pilihan

Langkah-langkah ini dapat ditransformasikan ke dalam tahap-tahap keterlibatan konsumen dalam pengambilan keputusan yang komplek :
1)  Need Aurosal
2)  Proses informasi konsumen
3)  Evaluasi Merek
4)  Pembelian
5)  Evaluasi sesudah pembelian

Model Dasar Pengambilan Keputusan Yang Komplek (Basic Model Of Complex Decision Making )
Gambar : Model pengambilan keputusan yang kompleks
Pengambilan keputusan yang komplek seringnya untuk produk berkategori :
• Barang dengan harga tinggi
• Barang yang mempunyai resiko penampilan seperti mobil dan produk medis
• Barang yang kompleks seperti komputer
• Barang special seperti peralatan olah raga, perabot
• Barang yang berhubungan dengan ego seseorang seperti pakaian,
   kosmetik.

E. PEMBELAJARAN KONSUMEN, KEBIASAAN DAN KESETIAAN (CONSUMER LEARNING, HABIT AND LOYALTY)
Kepuasan terhadap suatu merek cenderung mengarahkan konsumen mengulang keputusannya untuk membeli merek yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Kebiasaan menjamin kepuasan berdasarkan pengalaman masa lalu dan menyerderhanakan proses pencarian informasi dan evaluasi terhadap suatu merek. Pelajaran konsumen, kebiasaan dan kesetiaan adalah tiga konsep yang saling berhubungan. Perilaku kebiasaan membeli adalah hasil pembelajaran konsumen dari reinforcement. Reinforcement adalah suatu proses dimana konsumen akan berulangkali membeli apa yang telah memberi kepuasaan terbaik kepadanya. Perilaku tersebut mengarahkan kepada kesetiaan merek.

F. PEMBELAJARAN KONSUMEN (CONSUMER LEARNING)
Konsep pembelajaran dibutuhkan memahami kebiasaan, pembelajaran dapat didefenisikan sebagai perubahan perilaku yang berasal dari hasil pengalaman masa lalu. Ada dua aliran pemikir tehadap pemahaman proses pembelajaran konsumen (1) pembelajaran perilaku. Menitiberatkan pada dorongan pada pengaruh perilaku atau perilaku itu sendiri. (2) pembelajaran kognitip menitiberatkan pada pemecahan masalah dan menekankan pada variabel pemikiran konsumen yang mempengaruhi pembelajaran.
Dalam kelompok perilaku dikembangkan dua teori pembelajaran, perbedaan terjadi  pada  “  classical  conditioning  “  dan  “  Instrumental  conditioning.  Pada  “ classical conditioning” menerangkan perilaku berdasar pada pendirian hubungan tertutup antar dorongan primer dan dorongan sekunder. “ Instrumental conditioning “ memandang perilaku sebagai fungsi dari tindakan konsumen . Kepuasan mengarahkan pada kemungkinan melakukan pembelian. Pembelajaran mengarahkan kepada pembelian yang berulang dan kebiasaan. Dalam  model  yang  menggambarkan  perilaku  kebiasaan  pembelian,  pengarahan kebutuhan mengarah langsung pada perhatian membeli, pembelian selanjutnya, dan evaluasi sesudah pembelian. Proses pencarian informasi dan evaluasi merek sangat sedikit (minimal).

Kebiasaan menggambarkan dua fungsi penting, yaitu penurunan resiko untuk pembelian dengan tingkat keterlibatan yang tinggi dan penghematan waktu serta energi untuk produk dengan tingkat keterlibatan yang rendah. Kebiasaan seringnya mengarahkan kepada kesetiaan merek yaitu pada pembelian yang berulang berdasarkan pada kesesuaian merek. Teori pembelajaran yang berbeda menjabarkan dua pandangan yang berbeda terhadap kesetiaan merek. Pendekatan instrumental conditioning menunjukkan bahwa pembelian yang konsisten terhadap suatu merek mencerminkan komitmen terhadap suatu merek. Tetapi sebagian loyalitas mencerminkan pembelian yang berulang adalah bukan karena komitmen dengan merek tetapi merupakan proses inertia. Kelompok kognitip percaya bahwa perilaku saja tidak cukup sebagai ukuran loyalitas, diperlukan komitmen sikap terhadap suatu merek.

G. PENGAMBILAN KEPUTUSAN DENGAN KETERLIBATAN YANG RENDAH
Keterlibatan pembelian yang rendah dimana konsumen tidak mempertimbangkan kepentingan produk dalam sistem kepercayaannya dan tidak begitu memperhatikan identifikasi suatu produk. Pemasar mencoba untuk menciptakan keterlibatan konsumen dengan produknya karena keterlibatan konsumen akan cenderung kepada kesetiaan merek dan mencegah  konsumen  mencari  produk  saingan.  Permasar  mencoba menciptakan keterlibatan  dengan  differensiasi  merek  melalui  pencari  periklanan  yang  bisa memenuhi  kebutuhan  pembeli.  Contoh  untuk  jenis  sereal  untuk  dewasa  pada mulanya adalah produk dengan keterlibatan yang rendah, setelah Kellog memulai menambah nutrisi dan manfaat kesehatan maka tingkat keterlibatan meningkat.

Tiga Teori Dasar Pemahaman Tingkat Pengambilan Keputusan yang Rendah :
  1. Theory of passive learning (Krugman); menyatakan bahwa apabila konsumen tidak terlibat, konsumen tidak melakukan evaluasi secara kognitip terhadap pesan periklanan. Eksposur periklanan dapat terjadi tanpa recalldan luas.
  2. Theory of social judgement (Sherif),menyatakan bahwa kondisi keterlibatan yang rendah,konsumen mempertimbangkan beberapa merek, dan dalam mengevaluasi merek menggunakan sedikit atribut.
  3. The Elaboration likelihood model (Petty & Cacioppo’s) menyatakan bahwa ketidakterlibatan konsumen merupakan reaksi kepada dorongan tanpa pesan dalam komunikasi daripada pesan itu sendiri.
Perbandingan Hirearkhi Tingkat Keterlibatan Tinggi dan Rendah
Hirearkhi Keterlibatan Rendah
Hirearkhi Keterlibatan Tinggi
1. Kepercayaan merek dibentuk pertama                    dari passive learning
1.Kepercayaan merek dibentuk                  pertama dari active learning
2. Keputusan membeli
2. Evaluasi merek
3. Evaluasi  merek  sesudah  pembelian                       mungkin dilaksanakan mungkin tidak

3. Keputusan membeli
Empat Tipe Perilaku Konsumen
Berdasarkan pada tingkat keterlibatan dan pengambilan keputusan ada empat tipe perilaku konsumen :
Proses keterlibatan tinggi :
1.  Pengambilan keputusan yang kompleks
2.  Kesetiaan merek

Proses keterlibatan rendah :
1.  pengambilan keputusan terbatas, dan
2.  Inertia.
Pada gambar berikut menunjukkan bahwa setiap proses dijelaskan dengan efek hirearkhi yang berbeda. Proses keterlibatan tinggi dan rendah juga dijelaskan dengan teori pembelajaran yang berbeda berdasar hierarkhi keputusan.
Proses keputusan : Keputusan kompleks Pengaruh hirearkhi Kepercayaan
Evaluasi
Perilaku
Teori :
Passive learning
Proses keputusan : Keputusan terbatas Pengaruh Hirearkhi : Kepercayaan
Perilaku
Evaluasi
Teori :
Active learning
Proses keputusan
Kesetiaan merek Pengaruh hirearkhi Kepercayaan
Evaluasi Perilaku Teori :
Instrumental conditioning
Proses keputusan
Kesetiaan merek Pengaruh hirearkhi Kepercayaan
Perilaku Evaluasi Teori :
Classical conditionin
Implikasi      Strategi      Pengambilan       Keputusan      Keterlibatan      Kepentingan Rendah
Implikasi pengambilan keputusan dengan tingkat keterlibatan yang rendah terhadap pengembangan strategi pemasaran, beberapa pertanyaan strategi muncul :

- Haruskah pemasar berusaha membuat konsumen lebih terlibat terhadap suatu produk dengan tingkat keterlibatan yang rendah ?
- Haruskah pemasar merek yang tidak terkenal mengambil konsumen untuk menggeser dari perilaku inertia ke pencari variasi ?
- Haruskah pasar dikelompokkan berdasar tingkat keterlibatan konsumen ?
Pengaruh pertama terhadap pilihan konsumen adalah dorongan. Dorongan merupakan reaksi terhadap informasi yang diterima konsumen. Proses informasi terjadi ketika konsumen mengevaluasi informasi dari periklanan, teman, atau pengalaman sendiri terhadap suatu produk.

Pengaruh yang kedua dan pengaruh sentral atas pilihan konsumen adalah konsumen. Konsumen digambarkan dengan variabel pemikiran dan karakteristik. Variabel    pemikiran konsumen adalah  faktor  kognitip yang mempengaruhi pengambilan keputusan. Tiga tipe variabel pemikiran berperan secara esensial dalam pengambilan  keputusan  :  (1)  persepsi  karakteristik  merek  (2)  sikap  lanjutan terhadap merek (3) manfaat keinginan konsumen. Karakteristik konsumen adalah variabel seperti demografis, gaya hidup, dan karakteristik personalia yang digunakan untuk menggambarkan konsumen. Manajer pemasaran pertama menetukan apakah karakteristik tersebut berhubungan atau tidak terhadap perilaku kemudian menggunakan pengetahuan itu untuk mempengaruhi perilaku.Contoh bila pengguna nutrisi dewasa cenderung menjadi muda, berpenghasilan tinggi, berpendidikan, maka pesan iklan dirancang untuk menyesuaikan terhadap grup tersebut.

Pengaruh ketiga atas pilihan konsumen adalah respon konsumen adalah hasil  akhir  proses  keputusan  konsumen  dan  merupakan  pertimbangan  integral seluruh buku ini.

===== 0000 ======
DAFTAR PUSTAKA
Wahana, Jaka dan Kirbrandoko, 1995, Pengantar Mikro Ekonomi Jilid I, Terjemahan Cetakan pertama, Binarupa Aksara, Jakarta





ANALISISThe third influence on consumer choice is the consumer response is the end result of the process of decision making and an integral consideration throughout this book. Generally the consumer response to brand choice, but can also respect to choice of product categories, selection of shops, communication media choice (find information from TV, radio or read magazines).